Gubernur Jatim Khofifah Mengaku Prihatin Judi Online Semakin Mewabah Di Pedesaan

Gubernur Jatim Khofifah Mengaku Prihatin Judi Online Semakin Mewabah Di Pedesaan

Masa-masa sulit selama Pandemi Covid-19 memudahkan banyak orang tergiur dengan penghasilan instan. Judi online adalah fenomena bermasalah yang lebih menargetkan kelas bawah. Apalagi di daerah pedesaan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan, berbagai bantuan yang diberikan pemerintah jangan dijadikan modal peruntungan dari kegiatan ilegal tersebut. 

Khofifah juga meminta kepada kepala desa untuk memantau kemungkinan bandar judi online masuk ke wilayah tersebut.

www.qqomega.org
ilustrasi judi online

Baca juga: Bandar Togel Leluasa Kembangkan Bisnisnya di Sulawesi Utara

Ia mengaku sudah melihat fenomena judi online seperti togel, togel, dan togel selama dua minggu terakhir.

“Saya melihat dalam tulisannya ada kaitan antara Country A, Country B, dan markas New York,” kata Khofifah saat mendampingi kantor Bojonegoro Corville, Minggu (20/9/2020).

Gubernur perempuan pertama Jawa Timur ini mengaku prihatin dengan fenomena judi online ini. Sebab, dalam prakteknya sangat mudah diakses dan terkesan sangat murah. Taruhan yang bisa dipasang cukup dengan modal Rp 10 ribu.

Karenanya, Khofifah meminta kepada Kepala Desa jika ada warga yang diawasi mengikuti judi online.

“Tolong diingat, mainan seperti ini adalah judi. Ada pengumuman hari apa sekarang. Saya sudah mengikuti kejadian seperti ini selama dua minggu,” kata Khofifah.

Terkait fenomena judi online tersebut, pihaknya melakukan identifikasi dan koordinasi dengan Polda Jatim. Tanda-tanda jaringan internasional judi online, aplikasi perjudian mudah diakses masyarakat.

“Rupiah sepertinya kecil 10 ribu, tapi berapa rupee yang Anda masukkan jika Anda menggunakannya berkali-kali dalam sehari. Kita tidak beli makan untuk keluarga, jangan dijadikan modal usaha, uang ini dipakai untuk beli undian atau toto, ”kata Khofifah.

Gubernur Jawa Timur Khofifah mengaku belakangan ini prihatin soal judi online. Karena itu, pihaknya meminta setiap lini memberikan bantuan. “Mereka ditawari seribu kali. Kalau dikalikan Rp 10 ribu jadi Rp 10 juta. Saya minta dokumen kita,” kata Khofifah.

Sumber: timesindonesia.co.id

CategoriesTak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *